Halaman

Senin, 23 Januari 2012

Makna Upacara Atma Wedana

Awananta Atma dateng ring Acintya Pada, mangkana pemekas Mpungku Sang Dewa Pitara. (Kutipan Lontar Pitra Puja).
Maksudnya : Karena itu Sang Hyang Atma sampai pada alam yang tak terpikirkan (Acintya Pada). Oleh karena itu beliau disebut Dewa Pitara.



         Upacara Atman Wedana adalah tergolong Pitra Yadnya yang dilakukan setelah upacara Ngaben. Tujuan upacara Atma Wedana dinyatakan dalam Lontar Pitra Puja yang dikutip di atas. Tujuan Atma Wedana dinyatakan juga dalam Lontar Ligia sebagai berikut: ''Sang Dewa Pitara mur umungsi ana ring Acintya Bhuwana''. Artinya, Beliau Dewa Pitara berangkat menuju alam yang disebut Acintya Bhuwana. Sedangkan tujuan Upacara Sradha menurut Lontar Negara Kertagama disebut: ''Mulih maring Siwa Buddha Loka''. Maksudnya, setelah upacara Sradha, Atman itu menuju alam yang disebut Siwa Buddha.
Prof. Dr. Ida Bagus Mantra dalam orasi ilmiahnya menyatakan, konsepsi dasar upacara Memukur atau Atma Wedana itu sama dengan upacara Sradha menurut Lontar Negara Kerta Gama. Karena itu candi di Jawa yang tergolong Candi Atma Pratistha bukanlah kuburan Raja tetapi tempat pemujaan Dewa Pitara Sang Raja yang diidentikkan dengan Dewa-Dewa Hindu, seperti Raja Erlangga diidentikkan dengan Dewa Wisnu.
Prof. Dr. Soekmono juga membuktikan melalui suatu penelitian bahwa dalam sumuran candi di Jawa itu tidak ditemukan abu tulang jenazah sang raja. Yang ditemukan sejenis pedagingan Pura di Bali. Orasi ilmiah itu disampaikan oleh Prof. Dr. Ida Bagus Mantra saat upacara Dies Natalis Fakultas Sastra Udayana Denpasar yang saat itu masih berada di bawah Universitas Airlangga Surabaya.
Menurut konsep Upanisad: ''Brahman Atmanaikyam'' yang artinya Atman itu adalah Brahman. Maksudnya, Atman yang menjiwai manusia itu adalah tiada lain adalah Tuhan atau Brahman. Tuhan sebagai jiwa alam semesta atau Bhuwana Agung disebut Braman, sedangkan Tuhan sebagai jiwa pada diri manusia atau Bhuwana Alit disebut Atman. Kalau manusia meninggal menurut Wrehaspati Tattwa hanya Atman yang berpisah dengan badan kasarnya yang berasal dari unsur Panca Maha Bhuta. Menurut Lontar Gayatri, saat manusia meninggal Atman disebut Preta. Setelah dilangsungkan Upacara Ngaben, Atman tersebut Pitara. Setelah Upacara Atma Wedana dilangsungkan, barulah Atman disebut Dewa Pitara. Hakikat Upacara Pitra Yadnya itu adalah upacara Diksita yaitu upacara peningkatan status Atman yang berada dalam selubung Tri Sarira. Karena menurut ketentuan Atharvaveda XII.1.11, setiap umat Hindu wajib menjaga tegaknya kehidupan di Ibu Pertiwi dengan melakukan enam hal. Salah satu adalah melakukan diksa yaitu membangun kesadaran jiwa yang terang dengan Jnyana Agni atau sinar suci ilmu pengetahuan. Setelah hal itu dicapai, dilakukan upacara diksa. Kalau saat masih hidup tidak sempat, maka setelah meninggal di-diksa saat upacara Ngaben dengan upacara yang disebut Ngaskara. Menurut Wisnu Yamala, kata diksa berasal dari bahasa Sansekerta dari akar kata ''di'' dan ''ksa''. ''Di'' artinya divya Jnyana atau sinar ilmu pengetahuan dan ''ksa'' artinya ksaya atau melenyapkan, menghilangkan. Dengan demikian ''diksa'' artinya divya jnyana atau sinar suci ilmu pengetahuan yang melenyapkan kegelapan atau kebodohan.
Kalau manusia meninggal dan belum diaben maka roh atau Atman disebut Preta ditempatkan di setra, di bawah naungan Bhatara Prajapati. Saat penguburan kalau menggunakan Tirtha Pengentas Tanem boleh diaben kapan saja. Kalau tidak pakai Tirtha Pengentas Tanem wajib diaben paling lama dalam setahun. Kalau tidak demikian, Atman yang disebut Preta akan menjadi Atma Diya Diyu yang dapat mengganggu ketenteraman kehidupan masyarakat desa.
Saat upacara Ngaben melepaskan badan raga atau Stula Sarira sebagai selubung atman dan Atman yang disebut Preta meningkat statusnya menjadi Pitara. Setelah Upacara Ngaben selanjutnya dilangsungkan upacara Atma Wedana. Tujuannya, meningkatkan status Pitara menjadi Dewa Pitara.
Kelanjutan upacara Atma Wedana ini dilakukan upacara Nyegara Gunung dengan tujuan Maajar-ajar untuk mendapatkan tambahan ''ajah-ajah'' atau pengetahuan dari Ida Bhatara di Gunung seperti Ida Bhatara di Besakih dan Ida Bhatara Segara seperti di Pura Goa Lawah. Setelah beberapa lama Dewa Pitara mendapatkan ajah-ajah dari Ida Bhatara di Gunung dan Bhatara di Segara seperti Ida Bhatara di Besakih dan Ida Bhatara di Goa Lawah maka selanjutnya dilakukan upacara Dewa Pitara Pratistha yang sudah tergolong upacara Dewa Yadnya karena Atman sudah disebut Dewa Pitara. Upacara inilah yang umumnya disebut Ngalinggihan Dewa Hyang atau Nuntun Dewa Hyang di Merajan Kamulan untuk menjadi Bhatara Hyang Guru dengan acuan Lontar Purwa Bhumi Kamulan.
Upacara Atma Wedana ini menurut Lontar Siwa Tattwa Purana ada lima jenis yaitu upacara Nganseng, Nyekah, Memukur, Maligia dan Ngeluwer. Lima jenis upacara Atma Wedana makna Tattwanya sama saja. Perbedaannya terletak pada besar kecilnya upacara. Atman Wedana yang terkecil adalah Nganseng, terus Nyekah, Memukur, Maligia dan yang terbesar adalah Ngaluwer. Upacara Atma Wedana Ngaluwer ini sepanjang pengetahuan penulis belum pernah ada yang memilihnya karena syaratnya cukup berat. Upacara Dewa Pitara Pratistha yang umumnya disebut upacara Nuntun Dewa Hyang di Kamulan diuraikan sangat rinci dalam Lontar Purwa Bhumi Kamulan sebagai proses menstanakan Dewa Pitara sebagai Bhatara Hyang Guru di Merajan Kamulan. Dalam Lontar Purwa Bumi Kamulan dinyatakan bahwa setelah upacara Memukur Sang Dewa Pitara rika mapisan lawan Dewa Hyangnia nguni. Artinya setelah upacara Memukur di sanalah Dewa Pitara bersatu dengan Dewa Hyangnya yang dahulu. Ini artinya perjalanan hidup manusia menuju alam niskala adalah Merajan Kamulan, bukan di setra. Setra itu adalah tempat sementara dari perjalanan Sang Hyang Atma. Ini artinya setra itu sebagai tempat untuk melangsungkan prosesi awal Sang Hyang Atma kembali bersatu dengan keluarganya sebagai Bhatara Hyang Guru yang umumnya distanakan sebagai Ulun Pekarangan. Karena Sang Hyang Atman akan mejadi Bhatara Hyang Guru maka saat prosesi Pitra Yadnya itu ada upacara Maperas yaitu menyerahkan segala hal yang belum mampu diselesaikan saat masih hidup kepada keturunannya. Bentuk upacara itu dengan menyerahkan pada keturunannya tiga lembar daun dapdap dengan sebelas uang kepeng. Ini adalah simbol dari berbagai hal baik yang bersifat material dan nonmaterial yang diserahkan kepada keturunan yang diupacarai. Dengan demikian Dewa Pitara yang distanakan sebagai Bhatara Hyang Guru itu tidak ada beban lagi karena sudah diambil-alih oleh keturunannya, sehingga sebagai Bhatara Hyang Guru fokus menuntun keturunannya dari niskala.

Sumber : Bali Post

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar